foto

Sebenarnya dua kali Tina Agustina memeriksakan soal air matanya ke dokter. Pertama karena khawatir terkena penyakit, orang tua Tina membawa anaknya itu ke Poli Mata Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, 23 Mei lalu.

 "Dari pemeriksaan tidak ada gangguan penglihatan iritasi dan pendarahan di kelopak matanya," kata Staf hubungan masyarakat RSUD Sumedang, Iman Budiman, Rabu 6 Juni 2012.

Lima hari kemudian Tina kembali diperiksa. Selama dua hari observasi, kata Iman, tidak ada batu air mata kristal yang keluar.

Menurut pengakuan Tina, air mata kristal itu biasanya keluar kalau dia sedang sedih, kesal, marah, dan terlalu senang. Namun saat diperiksa dokter, lagi-lagi air mata itu tak keluar.

Tim dokter RSUD Sumedang merujuk Tina agar diperiksa ke dokter RS Mata Cicendo, Bandung. Maka pergilah Tina  diantar kedua orang tuanya serta aparat kecamatan dan perwakilan RSUD Sumedang.

Saat diperiksa dokter sekitar setengah jam, lagi-lagi tak ada air mata kristal yang keluar. Kabarnya, menurut Tina juga staf hubungan masyarakat RSUD Sumedang, Iman Budiman yang ikut mengantar, batu itu sempat muncul di tengah perjalanan ke rumah sakit. Jumlahnya dua butir. Saat dokter tak ada, sebulir batu kabarnya keluar lagi.

Dokter spesialis mata RS Cicendo Hikmat Wangsaatmadja tak langsung percaya keterangan subyektif itu. Ia memeriksa mata, penglihatan, dan gerak bola mata Tina. "Kesimpulannya mata pasien normal, tapi asal batu tidak ditemukan," katanya seusai memeriksa Tina. Untuk memastikannya secara medis serta mengaitkannya dengan asal-usul batu, dokter telah mengambil contoh air mata dan urine Tina.

Selain itu, rumah sakit juga mengirim tiga butir batu kristal terbaru yang disebut keluar dari kelopak mata pasien untuk diperiksa laboratorium Geologi, Bandung. Kedua pemeriksaan secara medis dan geologis tersebut untuk menemukan jawaban: apakah benar batu kristal itu berasal dari air mata atau batuan alam.

Sejak September 2011, Tina mengaku sudah mengeluarkan 72 butir batu, ditambah sedikitnya 161 butir lagi sejak 23 Mei 2012. Batu kristal itu keluar lewat kelopak dua matanya di bagian bawah.

Ukuran batu kristal itu kira-kira seujung pentol korek api. Warna batu berubah-ubah, dari hitam, lalu bening kehijauan, kekuningan, kebiruan, seperti kristal.

Seorang dokter mata mengatakan, orang yang berani bisa memasukkan benda sekecil itu ke balik kulit kelopak mata dan disimpan di atas dekat ujung alis. Benda itu bisa turun sendiri lalu muncul di kelopak mata bawah. Namun Tina membantah melakukan rekayasa seperti itu. "Bukan dimasukin (kristalnya) keluar aja sendiri, percaya nggak percaya," ujarnya.

0 comments:

Post a Comment